About Me

My Photo

Lan Lan Risdiana adalah anak pertama dari pasangan suami isteri dari Bapak Ahmad Robani S.Pd dan Iis Handayani. Lan Lan mendapatkan gelar  S1 Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan pada tahun 2012 dari Universitas Suryakancana Cianjur dan sekarang sedang menempuh pendidikan S2 pada Jurusan IPS di STKIP Pasundan Cimahi

Monday, March 4, 2013

Makalah Sistem pengetahuan Suku Sunda


MAKALAH SISTEM PENGETAHUAN SUKU SUNDA


BAB I
PENDAHULUAN


1.1         Latar Belakang
          Sistem pengetahuan masyarakat sunda terutama mengenai masalah pendidikan di dalam masyarakat suku Sunda sudah bisa dibilang berkembang baik.Ini terlihat dari peran dari pemerintah Jawa Barat
          Orang sunda memiliki sistem pengetahuan tentang pergantian musim yakni musim kemarau, dan musim penghujan. Pengetahuan ini dimiliki secara turun temurun dan digunakan dalam bidang pertnian, taerutama dalam hal bertanam padi di sawah.
          Orang sunda mengetahui pula system peredaran bintang di langit. Yang terpenting ialah pengetahuan tentang bentang wuhulu (bintang belatik, orion) yang dipergunakan untuk menentukan permulaan mengerjakan sawah

1.2         Tujuan penulisan
1.    Mendeskripsikan tentang sistem pengetahuan masyarakat sunda.
2.    Memenuhi salah satu tugas pembuatan makalah dari mata kuliah Budaya Sunda.
3.    Menambah wawasan tentang system pengetahuan masyarakat sunda


BAB II
KAJIAN TEORITIS


2.1     Sistem Pengetahuan Masyarakat Sunda Sejak dulu
          Orang sunda memiliki sistem pengetahuan tentang pergantian musim yakni musim kemarau, dan musim penghujan. Pengetahuan ini dimiliki secara turun temurun dan digunakan dalam bidang pertnian, taerutama dalam hal bertanam padi di sawah. Pengetahuan orang sunda menunjukan kesamaannya dengan pengetahuan di tanah jawa, sehingga ada anggapan bahwa pengetahuan tersebut berasal daari sana.
          Gejala-gejala alam seperti kedudukan matahari, hujan dan sebagainya serta waktu-waktu terjadinya gejala-gejala alam tersebut dikuasai pengetahuannya oleh mereka semata-mata didasarkan pada hasil pengamatan dan pengalaman. Pengalama ini mereka ingat dan pergunakan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan hidup mereka termasuk dalam usaha-usaha bertani.
          Orang sunda mengetahui pula system peredaran bintang di langit. Yang terpenting ialah pengetahuan tentang bentang wuhulu (bintang belatik, orion) yang dipergunakan untuk menentukan permulaan mengerjakan sawah. Pada kira-kira permulaan bulan Nopember (mangsa kanem), bentang wuluku di waktu subuh kelihatan di upuk timur. Hal ini dianggap oleh petani sebagai petunjuk saat di mulainya penggarapan sawah-sawah mereka. Kemudian kira-kira dalam bulan April (mangsa desta), bentang wuluku itu pada petang (permulaan malam) di ufuk barat kelihatan terbalik. Ini dianggap oleh mereka sebagai pertanda untuk menyimpan bajak. Artinya sudah selesai menuai padi atau musim panen. Pada waktu itu umumnya orang-orang muali mengaso dengan cara bergembira, membersihkan rumah atau kegiatan-kegiatan lainnya. Di waktu itulah mereka menganggap sebagai saat yang baik untuk melangsungkan upacara-upacara selamatan dalam rangka perkawinan putra-putri mereka atau hajatan-hajatan lain dalam rangka membangun rumah.
          Dikalangan masyarakat sunda, cara yang digunakan untuk mengetahui pergantian musim seperti musim kemarau dan musim penghujan ialah dengan cara mempelajari pranata mangsa untuk kepentingan pertanian yakni mengadakan perhitungan-perhitungan bulan dan tahun menurut jalannya matahari yang terbagi dalam dua belas mangsa sebagai berikut :

Yang ke
Nama
Jumlah hari
Dimulai sesuai dengan kalender masehi
I
kasa
41
22 atau 23 juni
II
Karo
23
2 atau 3 agustus
III
Katiga
24
25 atau 26 agustus
IV
Kapat
25
18 atau 19 september
V
Kalmia
27
13 atau 14 oktober
VI
Kanem
43
9 atau 10 november
VII
Kapitu
43
22 atau 23 desember
VIII
Kawolu
27
3 atau 4 februari
IX
Kasanga
25
1 atau 2 maret
X
Kasadasa
24
26 atau 27 maret
XI
Desta
23
19 atau 20 april
XII
Sada
41
12 atau 13 mei
                                              365 – 366 hari
           
3.2     Sistem Pengetahuan (Pendidikan) Masyarakat Sunda
          Sistem pengetahuan masyarakat sunda terutama mengenai masalah pendidikan di dalam masyarakat suku Sunda sudah bisa dibilang berkembang baik.Ini terlihat dari peran dari pemerintah Jawa Barat. Pemerintah Jawa Barat memiliki tugas dalam memberikan pelayanan pembangunan pendidikan bagi warganya, sebagai hak warga yang harus dipenuhi dalam pelayanan pemerintahan. Visi Pemerintah Jawa Barat, yakni “Dengan Iman dan Takwa Jawa Barat sebagai Provinsi Termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibukota Negara Tahun 2010″ merupakan kehendak, harapan, komitmen yang menjadi arah kolektif pemerintah bersama seluruh warga Jawa Barat dalam mencapai tujuan pembangunannya.
          Pada masyarakat tradisional Sunda, belajar sudah menjadi bagian dalam kehidupannya sejak dahulu, Carita Parahyangan mencatat, raja Sunda yang bernama Sang Rakeyan Darmasiksa (hidup sekitar abad ke 12 sampai 13) merupakan pendiri lembaga pendidikan di Tatar Sunda pada masa itu. Lembaganya diberi nama Sanghyang Binayapanti, sedangkan kompleks pendidikannya disebut Kabuyutan yang kemudian disebut juga mandala. Kedudukan mandala atau kabuyutan memperoleh tempat tersendiri yang tinggi kedudukannya sehingga sangat dihormati pada struktur kerajaan dan masyarakat Sunda masa itu.
             Keberadaan lembaga pendidikan (kabuyutan) bagi masyarakat Sunda dianggap sebagai tempat yang sakral dan secara formal perlu dilindungi oleh kerajaan. Pengakuan akan keberadaan Kabuyutan sebagai daerah khusus dan dilindungi keberadaannya oleh kerajaan terungkap pada prasasti Kebantenan I, II, III dan IV. Isi perasasti-prasasti tersebut merupakan amanat Raja Pajajaran yang menjadikan daerah Jayagiri dan Sunda Sembawa sebagai kabuyutan serta melindunginya dari berbagai ancaman, baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri. Berdasarkan naskah Amanat Galunggung, kedudukan kabuyutan di kerajaan Sunda sangat tinggi hingga seorang raja yang tidak dapat mempertahankan dari serangan musuh nilainya lebih rendah dibanding kulit lasun (Musang) di tempat sampah.
          Keberadaan kabuyutan sebagai lembaga pendidikan telah menghasilkan berbagai karya tulis yang isinya terutama berkenaan dengan tuntunan hidup manusia di dunia agar selamat di dunia dan akhirat kelak, diantaranya : Sewaka Darma (Koropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Koropak 630), dan Amanat Galunggung (koropak 632).
          Fasilitas yang cukup memadai dalam bidang pengetahuan (pendidikan) maupun informasi memudahkan masyarakat sunda dalam memilih institusi pendidikan yang akan mereka masuki dalam berbagai jenjang. Seperti pada permulaan masa kemerdekaa di Jawa Barat terdapat 358.000 murid sekolah dasar, kemudian pada tahun 1965 bertambah menjadi 2.306.164 murid sekolah dasar. Jadi berarti mengalami kenaikan sebanyak 544%. Pada saat ini pada era ke- 20 disetiap ibukota kabupaten telah tersedia universitas-universitas, fakultas-fakultas, dan cabang-cabang universitas.
          Pada masyatakat sunda juga terdiri atas pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal adalah kegiatan yang sistematis, berstruktur, bertingkat, berjenjang, dimulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dan yang setaraf denganya; termasuk ke dalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum, program spesialisasi, dan latihan profesional, yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus contoh : TK, SD, MI, SMP, MTS, SMA, SMK, Aliyah, dan Perguruan Tinggi. Sedangkan  pendidikan non formal ialah setiap kegiatan terorganisasi dan sistematis, di luar sistem persekolahan yang mapan, dilakukan secara mandiri atau merupakanbagian penting dari kegiatan yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik tertentu didalam mencapai tujuan belajarnya. Contohnya Pesantren, dll
          Pembangunan pendidikan di Jawa barat yang mayoritas berpenduduk suku sunda merupakan salah satu bagian yang sangat vital dan fundamental untuk mendukung upaya-upaya pembangunan Jawa Barat. Pembangunan pendidikan merupakan dasar bagi pembangaunan lainnya, mengingat secara hakiki upaya pembangunan pendidikan adalah membangun potensi manusia masyarakat sunda yang kelak akan menjadi pelaku pembangunan.
          Dalam setiap upaya pembangunan, maka penting untuk senantiasa mempertimbangkan karakteristik dan potensi setempat. Dalam konteks ini, masyarakat suku Sunda memiliki potensi, budaya dan karakteristik tersendiri. Secara sosiologis-antropologis, falsafah kehidupan masyarakat Jawa Barat yang telah diakui memiliki makna mendalam adalah cageur, bageur, bener, pinter, tur singer. Dalam kaitan ini, filosofi tersebut harus dijadikan pedoman dalam mengimplementasikan setiap rencana pembangunan, termasuk di bidang pendidikan. Cageur mengandung makna sehat jasmani dan rohani. Bageur berperilaku baik, sopan santun, ramah, bertata krama. Bener yaitu jujur, amanah, penyayang dan takwa. Pinter, memiliki ilmu pengetahuan. Singer artinya kreatif dan inovatif. Sebagai sebuah upaya mewujudkan pembangunan pendidikan berfalsafahkan cageur, bageur, bener, pinter, tur singer tersebut, ditempuh pendekatan social cultural heritage approach. Melalui pendekatan ini diharapkan akan lahir peran aktif masyarakat dalam menyukseskan program pembangunan pendidikan yang digulirkan pemerintah.

  

BAB III
PENUTUP



 3.1 Kesimpulan
Orang sunda memiliki sistem pengetahuan tentang pergantian musim yakni musim kemarau, dan musim penghujan. Pengetahuan ini dimiliki secara turun temurun dan digunakan dalam bidang pertnian, taerutama dalam hal bertanam padi di sawah. Pengetahuan orang sunda menunjukan kesamaannya dengan pengetahuan di tanah jawa, sehingga ada anggapan bahwa pengetahuan tersebut berasal daari sana.
          Gejala-gejala alam seperti kedudukan matahari, hujan dan sebagainya serta waktu-waktu terjadinya gejala-gejala alam tersebut dikuasai pengetahuannya oleh mereka semata-mata didasarkan pada hasil pengamatan dan pengalaman. Pengalama ini mereka ingat dan pergunakan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan hidup mereka termasuk dalam usaha-usaha bertani.

          Sistem pengetahuan masyarakat sunda terutama mengenai masalah pendidikan di dalam masyarakat suku Sunda sudah bisa dibilang berkembang baik.Ini terlihat dari peran dari pemerintah Jawa Barat. Pemerintah Jawa Barat memiliki tugas dalam memberikan pelayanan pembangunan pendidikan bagi warganya, sebagai hak warga yang harus dipenuhi dalam pelayanan pemerintahan. Visi Pemerintah Jawa Barat, yakni “Dengan Iman dan Takwa Jawa Barat sebagai Provinsi Termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibukota Negara Tahun 2010″ merupakan kehendak, harapan, komitmen yang menjadi arah kolektif pemerintah bersama seluruh warga Jawa Barat dalam mencapai tujuan pembangunannya.

 
3.2  Saran
 Kepada pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemenrintah daerah hendaknya adanya perhatian yang penuh dalam mengembangkan dan melestarikan semua kebudayaan yang ada di masyarakat suku sunda agar tetap terjaga kelestariannya.

2 comments: